Jumat, 16 Februari 2018

MIMPI BESAR



Namaku Rahman, aku tinggal disebuah desa yang sangat terpelosok. Sangat pelosok. Mungkin desa ini juga jauh dari pantauan para pembesar Negara, sehingga tak jarang desa ini luput dari belas kasih mereka. Usiaku kini 17 tahun dan duduk dikelas akhir sekolah menengah atas. Tak banyak sekolah disini hanya ada 1 bangunan sekolah, dengan bangunan yang menurutku sudah tak layak pakai. Bukan hal yang aneh jika musim hujan tiba sekolah ini selalu kebanjiran. Dinding-dinding kelas yang sudah dimakan usia begitupula dengan bangku dan meja yang sudah bobrok. Hanya ada 3 ruang kelas dengan kondisi yang masing-masing tidak jauh berbeda. Ada 5 orang guru sukarelawan disini, mereka merangkap mengajar SD,SMP dan SMA. Bangunan sekolah ini merangkap ketiga tingkatan sekolah tersebut. Misalnya pagi adalah untuk SD, siang untuk SMP dan sore untuk SMA. Sekilas memang nampak bangunan ini serbaguna. namun menurutku ini lebih pantas dikatakan naas. Guru-guru disini tak pernah mematok harga. Mereka dengan ikhlas menerima berapapun bayarannya. Mungkin mereka mengerti dengan kondisi perekonomian desa ini yang sebagian besar hanya sebagai buruh tani. Bagiku guru seperti inilah yang sangat pantas dikatakan pahlawan tanpa tanda jasa. Membagikan ilmunya dengan sangat ikhlas. Terkadang sekolahku mendapat tambahan pengajar yang tak lain adalah mereka para mahasiswa yang sedang melakukan survey untuk tugas akhir mereka dan itu tak bertahan lama. Namun jangan tanyakan tentang semangat anak-anak desa ini. Mereka tak pedulikan kondisi sekolah mereka. Mereka selalu menyimpan mimpi yang ingin mereka wujudkan dengan semangat yang menggebu-gebu. Karna impian mereka itu pula yang membuat mereka rela berjalan kaki sejauh 2 kilo untuk sampai disekolah. Bagi mereka mimpi besar memang patut diperjuangkan. Begitupun denganku yang selalu punya mimpi besar ingin memajukan desa ini. Membuat desa ini dipandang dan tak terpuruk lagi.

Pukul 4 pagi, sudah menjadi rutinitasku bangun sepagi ini. Setelah membantu bapak disawah, aku bergegas menuju sungai untuk mandi.disungai sudah Nampak 3 teman seperjuanganku Arif,Rizki dan Rido. Kami memang selalu melakukan rutinitas ini setiap pagi. Mandi bersama disungai merasakan airnya yang bening tak tercemar.terkadang kami berburu ikan disungai ini untuk sekadar sarapan pengganjal perut. Inilah nikmat Tuhan yang patut kami sukuri. Walaupun dengan keterpurukan desa ini, tapi keasrian desa ini masih sangat terjaga. Sejuknya udara tanpa polusi, hijaunya persawahan, luasnya ladang, jernihnya air yang tak tercemar limbah pabrik dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan dan dari sikap individualisme.
Seusai mandi aku bersama teman-temanku selalu belajar bersama, sembari menunggu sore tiba. Karna jadwal masuk sekolah untuk SMA adalah sore hari setelah jadwal SD dan SMP usai. Maklum hanya satu bangunan sekolah untuk bergantian. Ketika sore mulai beranjak, kami mulai menapaki jalanan yang penuh rintangan untuk sampai ke sekolah. Menyebrangi sungai, menapaki batu-batu yang licin karna lumut, mau tak mau kaki kami pun harus berkubang dengan lumpur sawah. Sudah bertahun-tahun kami lakukan ini demi sebuah cita-cita. Panas perih kaki sudah tidak kami rasakan lagi. Kami hiasi semuanya dengan seyuman dan semangat menggebu di dada.
“hei Rahman, kau sudah siap dengan kejutan hari ini?” ujar Rido
“ ya aku siap! Sangat siap. Apapun hasilnya aku terima. Yang penting aku sudah berusaha semampuku untuk mengerjakan tesnya” jawabku
“siapapun yang terbang ke Jerman nanti dan mendapat beasiswa disana. Jangan lupa mimpimu memajukan tanah ini” timpal Rizki
“ sungguh beruntung kita memiliki guru seperti pak Rojak. Tidak peduli dengan keterbatasan tanah ini tapi ia tetap merekomendasikan kepada temannya orang-orang seperti kita untuk terbang ke Jerman” jelas Arif
“bersaing dengan ratusan orang yang berasal dari sekolah berada”

Sesampainya disekolah, kami menunggu hasilnya dengan jantung yang berdetak lebih kencang dan keringat bercucuran.
“Rahman” pak Rojak memanggilku.
Rasanya jantung ini ingin loncat dari tempatnya. Pak Rojak memberiku sebuah amplop putih. Dengan hati berdebar, aku buka amplop itu dan membacanya. Aku siap melihat apapun keputusannya.
“SELAMAT KAMU LULUS”
Seketika mataku terbelalak melihat tulisan berwarna hijau itu dan senyumku mulai mengembang. Kupandangi wajah teman-temanku penuh arti. Mereka mendekatiku, menyalamiku dan memelukku.
“selamat kawan !”
Satu jalan telah terbuka lebar untukku. Semangat ini semakin menggebu rasanya. Akupun mendapatkan beasiswa study teknologi kimia di RWTH-Aachen Jerman. Kelak akan kuwujudkan mimpiku. Memajukan tanah air.
Tak kusangka hanya berawal dari mimpi.
Tidak! Aku salah! Justru berawal dari mimpi jalanpun terbuka lebar. Mimpi seorang anak desa yang terpencil dengan sekolah ala kadarnya. Kembali teringat ucapan bapakku.
“tak peduli dimana kamu bersekolah le, yang penting ada kemauan dan semangat”


cerpen ini aku tulis ketika sedang menuntut ilmu di pondok pesantren di Cirebon. Dulu usiaku masih 18 tahun ketika menulis ini, dan pada usia itulah semangat ku ke Jerman sedang menggebu-gebu.  Cerpen ini adalah salah satu saksi bisu awal perjalanan study ku di Jerman. Allah selalu punya cara untuk mewujudkan impian hambaNYA. tetap semangat! :)