Minggu, 15 April 2012

Love Story Part 8

Casts : -  No Minwoo
-          Mei Li
-          Han Youngri
Genre : Romance
Author : @ainuremes

Hari demi hari terasa begitu cepat. Kubuka mataku untuk mengawali hari ini, mengerjapkannya beberapa kali. Ku sibakkan tirai kamar melihat sinar matahari yang langsung menerpa wajahku, embun-embun yang masih menggantung di dahan-dahan itu. Dan orang-orang yang berlalu lalang memulai aktivitasnya. Kini tinggal aku yang memikirkan hendak kemana kaki ini ku langkahkan. Ya Tuhan terimakasih telah kau izinkan aku membuka mata pagi ini, dan membiarkan kaki ini menopang tubuhku. Izinkan aku agar tetap selalu membahagiakan orang-orang yang sangat mencintaiku. Kuambil handphone yang tergeletak disamping ranjang, melihat layarnya “new message from No Minwoo” tanpa sadar bibirku mulai merekah. Aku buka pesan baru itu dan membaca isinya
“morning my sweetheart ^^. Persiapkan dirimu untuk keberangkatan kita ke Paris” .
Aku ingat Minwoo pernah menghadiahkan tiket ke Paris saat ulangtahunku. Dia benar-benar tahu bagaimana caranya membuatku senang.
Sepertinya aku ingin mengawali hari ini bersama YoungRi ---- batinku. Segera kuambil ponsel dan menghubunginya.

***

Aku dan YoungRi memilih tempat makan yang hanya 2 blok dari rumahku, cukup ramai pagi ini. Aku dan YoungRi memilih meja dekat pintu masuk. Alasannya karna semua tempat sudah terisi penuh. YoungRi pun mulai mengoceh dengan cerita-cerita barunya minggu ini, aku hanya menatapnya sambil tersenyum dan sesekali menanggapinya. youngRi cukup bising pagi ini, entah apa yang sudah dilakukan Youngmin sehingga membuat YoungRi Nampak begitu bersemangat hari ini. Tapi apapun yang telah dilakukan Youngmin aku harus mengucapkan terima kasih karna sudah membuat sahabatku YoungRi Nampak cerah kali ini. Kudengar kebisingan, aku tidak bisa lagi membedakan pembicaraan terpisah yang berlangsung di mejaku, tapi mendengar semua suara itu sebagai satu denyut yang bergetar berirama. Aku mendorong sandwich ku dan memejamkan mata, membiarkan keriuhan latar belakang itu menyelimutiku. Setelah beberapa saat, aku membuka mata, membuka bungkus sandwich-ku, dan mengigit satu kali, menikmati rasa salad ayam istimewa dan saus apelnya. youngRi sedang berbicara dengan penuh semangat didepanku. Tapi aku tidak bisa berkonsentrasi. Entah mengapa tiba-tiba Minwoo muncul dibenakku sekarang. Tanpa sadar aku menggubrak meja cukup keras, menghentikan celoteh yang sedari tadi menghiasi bibir YoungRi. Aku tersenyum pada YoungRi dan berkata “Maaf Young, aku harus pergi sekarang. Aku merindukan my hero”.
Sekilas kulihat YoungRi yang terkekeh melihatku. Kupeluk YoungRi dengan sigap dan lekas meninggalkannya. ***
Entah apa yang membuatku melangkah menuju taman ini, aku lupa sudah berapa lama aku tak mengunjungi tempat ini bersama Minwoo. Taman yang menjadi saksi bisu kisahku bersama Minwoo. Kini aku berdiri disamping bangku taman itu, menatap benda itu penuh makna,sebuah media yang penuh arti, sebuah media yang menampung kisahku dengan pria itu. “Minwoo entah mengapa setiap kali aku mengingatmu, tempat ini selalu hadir dalam benakku juga” --- pikirku.
Kulihat sesosok pria itu melangkah kearahku, aku picingkan mataku dan untuk sesaat jantungku berdegup kencang. Laki-laki itu mengenakan jaket birunya, rambutnya yang mengilap dan tertiup angin. Mencerminkan efek naturalnya begitu juga dengan jalannya yang santai dan tegap. Sungguh mempesona. Pria itu mendekatiku dan mencium dahiku. “Hay Mei Li kenapa kau seperti itu menatapku?”
Aku sangat senang Minwoo, sampai aku tak tahu harus bicara apa ---- benakku. Segera aku sembunyikan tatapan malu dibalik bulu mataku. MinWoo tersenyum padaku dan sesekali aku menatapnya. Aku tidak tahu apa yang membuatku seperti ini setiap melihatmu. Aku seakan berteriak dalam hati mencurahkan semua perasaan senangku.
MinWoo mengangkat alis kanannya  “sudah lama aku tidak menghabiskan waktu denganmu, aku terlalu sibuk akhir-akhir ini, ayo ikut denganku”
Aku mengatupkan bibir dan melukiskan senyum tipisku. MinWoo meraih tangan kananku dan menuntunku memasuki Volvo nya. 20 menit kemudian kita telah sampai di kediaman MinWoo yang sudah cukup lama tak aku kunjungi. MinWoo merangkul bahuku, gerak tanda sayang yang sudah beberapa minggu ini tidak dia lakukan. Gerakan itu cukup santai, tapi membuatku khawatir dan sedikit gugup. Walaupun aku tahu laki-laki ini adalah tunanganku tapi tak bisa kupungkiri, sesekali aku merasa canggung akan sikapnya.
“cukup banyak makanan yang wajib kau habiskan kali ini” ujar MinWoo saat membuka pintu masuk.
Aku mengerutkan keningku sekarang ketika menatap perubahan diruang keluarga. Dua per tiga dari ruangan itu tetap dalam kegelapan,perabotnya masih ditutupi seprai. Tapi, bagian terjauh ruangan mengundang dengan hangat. MinWoo telah menarik sebuah meja kedekat api yang menyala dalam perapian batu bata besar dan menandainya dengan taplak linen. Disebelah buket bunga kering MinWoo menarik sofa berdudukan dua kedekat perapian dan menumpuk bantal dan permadani kain di lantai. Cahaya lembut mengundangku maju menyeberangi ruangan sampai aku berdiri didepan perapian. Minwoo meninggalkan meja dan menyibukkan diri menjerang air di microwave dan menyendok campuran cokelat kedalam mug. Minwoo berputar untuk menatapku, yang sedari tadi melihat dari balik pintu.
“kau harus mencoba cokelat panas terenak yang pernah ada” ujar Minwoo
Minwoo menghampiriku dan menyuguhkan sebuah mug berisi cokelat panas. Tatapan Minwoo yang memintaku untuk mencoba cokelat itu. Aku pun menyeripitnya, merasakan cokelat itu melewati tenggorokan dan sampai ke lambung, perutku terasa begitu hangat sekarang. Minwoo memalingkan tubuhnya dan kembali menyibukkan diri dimeja dapur.
“ada cukup banyak lasagna untuk santapan kita kali ini” ujar laki-laki jangkung itu.
“sepertinya aku harus menyiapkan perut karet kali ini” aku menyahutinya
Minwoo menyuguhkan padaku dalam porsi besar dan memberiku sepotong kecil keju “ini keju tanpa lemak” Minwoo meyakinkanku. Minwoo menaruh salad dipiringnya dan meyerahkan mangkuk hidangan itu padaku. “baiklah aku akan habiskan semuanya” ujarku menantang. Aku menumpuk salad tinggi-tinggi lalu sambil terus menatap piring, aku menyendok daging,pasta dan keju kedalam mulut. Aku makan dengan tergesa-gesa seolah berusaha mengenyangkan diri.
“pelan-pelan” ujar Minwoo padaku dengan lembut “biarpun kutahu perutmu itu bisa menghabiskan semua ini, tapi bisakah kau sisakan untukku? Please” ujar Minwoo setengah mengejekku. Minwoo menghempaskan tawa kecilnya, dan mulai untuk menyendok hidangan di meja. Entah kenapa kita berdua seakan terlibat dalam pertarungan makan lahap. Ketika kedua garpu diletakkan di piring untuk menandai berakhirnya acara makan, Minwoo mendorong kursinya kebelakang
“ada apple crumble untuk pencuci mulut dan saus apel. Tapi bagianmu hanya satu per empatnya saja ya, ku yakin perutmu sudah tidak cukup tampung”
“apa?! Kau tidak adil Minwoo!!” ujarku kesal. Aku segera menyambar mangkuk ditangannya dan langsung memakan dengan lahap pencuci mulut itu. Namun kupikir Minwoo benar, baru saja aku melahap beberapa sendok perutku sudah terasa sesak. Aku menyerah.
“apa aku bilang” ujar Minwoo girang
***

Aku melangkah menuju piano tua diruang keluarga dan mulai memainkan karya-karya Bach, Mozart, dan Beethoven dengan sentuhan lembut. Minwoo meletakkan tangannya diatas piano dan menatapku dengan saksama sambil mendengarkan setiap nada yang aku mainkan. Aku balas menatapnya “sedikit pembelajaran dari Donghyun yang kuterima untuk memainkan ini”
“Great! Kau belajar dengan cepat rupanya” ujar Minwoo. Kuhabiskan waktuku bersamanya seharian ini, bersenda gurau dan bertukar cerita. Melepaskan semua rindu yang melekat diantara aku dan Minwoo. Senja pun mulai datang, matahari menggantung diarah barat dan memancarkan sinar kemerahannya. Minwoo pun membawaku kembali kerumah.
***

Aku memutar tumitku dan menjatuhkan tubuhku diatas ranjang sekarang, membayangkan suasana menyenangkan yang baru saja aku lewati. Seandainya waktu bisa berhenti disaat itu. Aku lelah hari ini tapi aku senang bisa bersama Minwoo. Sungguh momen yang jarang terjadi dalam beberapa minggu terakhir ini. Aku bangun dari tidurku dan melangkah masuk ke kamar mandi. Aku percikkan air dingin kewajahku, lalu menatap wajahku didalam cermin dalam waktu lama, berusaha memahami apa yang sedang terjadi. Beruntungnya aku mendapatkannya. Perlahan senyumku terlukis.
“praaaak!!!” tiba-tiba tubuhku terjatuh dan tanganku menjatuhkan beberapa alat mandi yang terletak disebelah westafel. “Ya Tuhan, ada apa dengan kakiku? Aku terlalu pegal hari ini, don’t be worried” --- batinku. Aku luruskan kedua kaki dan menunggunya beberapa menit, setelah itu aku mencoba untuk berdiri lagi dan akhirnya pun bisa. “tidak apa-apa” cibirku.
Kubaringkan tubuhku diatas ranjang dan menutupnya dengan selimut perca, bermotif cornflower biru terang. Mempersiapkan kondisiku untuk besok, untung saja aku sudah packing jauh-jauh hari. Aku pun mulai tertidur.
***

Pesawat Boeing 747-400, maskapai Korean Air, 10 menit lagi akan lepas landas. Kutengok jam tanganku pukul 11:00 am. Minwoo yang sedari tadi sudah duduk manis disebelahku. Terlihat sangat jelas ia juga menunggu pesawat segera lepas landas. Minwoo pun memasang sitbelt nya dan tersenyum padaku “ready for our traveling?”
“sure” aku pun membalas senyumnya. Ini kali kedua aku traveling dengan Minwoo setelah kejadian di Jeju Island waktu itu. Membuatku sangat senang ***
Pukul 14:10 pm, pesawat mendarat di Charles De Gaulle Airport (CDG), France tepatnya di terminal 2E. 30 menit kemudian aku dan Minwoo sudah berada di tempat yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya, taman yang indah dengan air mancur ditengahnya. Sebuah meja bundar dengan taplak putih bersih. Diatasnya dikelilingi dengan beberapa buah segar,pancake,dan pastry. Minwoo menuntunku dan menarik kursi untukku. Minwoo pun  duduk dihadapanku. Ditemani oleh hembusan angin dan bau khas musim semi.
“aku sudah pernah katakan padamu, jangan berlebih, aku merasa tak seimbang denganmu” ujarku
Minwoo menghembuskan napas panjangnya “tidak ada yang aku lebih-lebihkan. Anggap ini sebagai suguhan untukmu pertama kali datang kesini”
“kau ini susah diberi tahu” ujarku
Minwoo mulai menaruh pancake diatas piringku dan menyiramnya dengan saus caramel. Aku pun mulai menikmati suasananya. Aku menggigit salah satu pastry manis yang terdiri dari berlapis-lapis adonan setipis tisu, berisi gula,kayu manis,kacang cincang dan madu. Gigitan itu meleleh di mulutku. “Mmmm..enak sekali, kau ini paling jago mengejutkanku”
***



Aku dan Minwoo perlahan-lahan berbelok dan menyusuri jalan. Kepalaku menunduk melawan angin, tas ku berayun dibahuku yang kurus. Minwoo menarikku menuju trotoar lagi. Beberapa menit setelah kita berjalan, kini dihadapanku sudah berdiri bangunan yang gagah dan mewah “Arc De Triomphe” orang-orang menyebutnya. 


Sungguh mengagumkan. Ditengah kebisingan jalan raya dan dihiasi dengan lampu-lampu semakin menambah pesonanya.
“tempat ini indah sekali Min” ujarku memukau
“kau suka? Itu yang aku harapkan” ujar Minwoo padaku.
Minwoo melangkah menatap bangunan itu lebih dekat, ia berdiri sekitar 5 langkah didepanku. Aku mendekatinya tapi tiba-tiba aku terjatuh, kaki kananku tak bisa aku langkahkan. Minwoo menoleh kearahku dari balik bahunya, kemudian berlari mendekatiku “kau kenapa?” ujarnya panik
“tidak Min, kepalaku sedikit pening saja” ujarku berusaha menyembunyikan masalah di kaki ku.
“sungguh? Lebih baik kita segera ke hotel agar kau bisa beristirahat”
***

Minwoo menggendongku dan membaringkanku diatas ranjang, “istirahat yang cukup. Jika kau butuh sesuatu, kamarku berada disebelah kamarmu” ujar Minwoo
“iya aku tahu, tak ada yang perlu kau khawatirkan” kataku
Minwoo melangkah keluar dan sekarang aku merasa sangat lelah dan mulai terlelap.
***
Ke esokkan harinya, aku sudah memakai baju cotton yang sedikit tebal. Aku pun memakai celana jeans berwarna hitam. Semua pakaian pun sudah aku rapihkan di dalam koper. Aku melangkah keluar kamar dan mengetuk pintu kamar Minwoo yang terletak disebelah kamarku.
“ada apa Mei Li?” ujar Minwoo. Muka cerahnya muncul dibalik pintu.
“aku ingin pulang Min. kondisiku sepertinya tidak memungkinkan. Maafkan aku Min”
“yasudah pagi ini kita kembali ke Korea” ujar Minwoo sambil memegang kedua bahuku.
“Jeongmal Mianhaeyo, aku sudah mengacaukan semua rencana” ujarku tertatih
“kondisimu jauh lebih penting dear”